Lomba Tumpeng Kemerdekaan

Hari Jumat, 1 September 2017, merupakan hari yang menggembirakan bagi BIR Laurentius. Pada hari itu, delapan anggota BIR yaitu Melissa, Nanda, Fannya, Yosis, Gian, Hizkia, Gihon, dan Carlos mengadakan pertemuan Bina Iman di San Diego Hills Karawang. Rombongan berangkat menuju ke lokasi diantarkan oleh bapak Yohanes Limboh Prianidi dan bapak Rudden Nainggolan menggunakan dua mobil.

BIR Lingkungan Laurentius

Mereka tiba di lokasi sekitar pukul 09.30 dan disambut oleh om Deddyanto Kala Lembang Gonzales selaku Ketua Lingkungan Laurentius, yang juga tuan rumah di San Diego Hills. Acara pertama mereka adalah berenang bersama dan bermain bola di kolam. Aktivitas ini sangat menyenangkan, sehingga mereka merasa berat hati saat harus meninggalkan kolam renang.

BIR Lingkungan Laurentius

Acara selanjutnya adalah pendalaman Kitab Suci, dipandu oleh ibu Yohana Ima Mukanasari (pembina BIR Laurentius) dan ibu Yohana Candri Dame Sinaga. Ibu Ima menjelaskan bahwa bulan September merupakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Karena itu, selama bulan September kita diajak untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci. Untuk keperluan ini, Keuskupan telah menerbitkan buku panduan dengan tema: “Kabar Gembira di Tengah Gaya Hidup Modern.”

Tema ini dipilih karena gaya hidup modern telah melanda seluruh bangsa, termasuk Gereja. Ada banyak hal positif dari kemajuan teknologi, misalnya pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien, informasi dan komunikasi menjadi lebih cepat dan mudah. Karena itu, Gereja dianjurkan menggunakan teknologi untuk menggemakan Sabda Allah. Namun demikian, tidak sedikit pula hal negatif yang diakibatkan gaya hidup modern. Maka, gaya hidup modern perlu dicermati agar tidak mengikis iman Katolik, khususnya dalam hal mentalitas negatif budaya modern, seperti: materialisme, individualisme dan hedonisme.

Pertemuan pertama dengan sub tema “Kabar Gembira dan Teknologi,” bertujuan agar remaja memahami dan menyadari kalau teknologi seringkali disalahgunakan. Tujuan yang kedua, agar remaja mampu memanfatkan teknologi dengan bijaksana untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan bersama.

Bila tidak hati-hati, teknologi bisa merubah pola berpikir, pola bersikap, pola bertindak dan pola berkomunikasi menjadi negatif. Contoh : sepulang sekolah remaja tergoda untuk bermain game online, lama-kelamaan menjadi ketagihan dan saat tidak memiliki uang, tergoda untuk mencuri dari orang tua. Saat ketahuan dan ditegur, menjadi marah dan hubungan anak dengan orang tua menjadi renggang. Contoh lain: saat weekend remaja terlalu asyik bermain game sampai larut malam sehingga terlambat bangun dan tidak ke gereja.

Pada kitab Kejadian 11; 1-9 menceritakan tentang kesombongan manusia. Pada masa itu, orang Babel sebagai penguasa dunia, memaksakan bahasa mereka ke semua orang dan berniat membangun sebuah menara yang puncaknya mencapai langit. Tindakan ini memiliki dua makna, yaitu pertama, menunjukkan kemuliaan, kebesaran dan keagungan nama mereka sendiri (bukan keagungan Allah). Kedua, tidak mau memenuhi keinginan Allah untuk menyebar dan memenuhi dunia. Perintah Allah dipandang sebagai suatu ancaman karena membuat mereka menjadi terpisah dan tidak ada lagi kesatuan bahasa.

Allah tidak menyukai hal ini karena dominasi/keinginan mengontrol orang lain dipandang tidak benar. Selain itu, hal ini membuat orang tidak mau memenuhi keinginan Allah untuk memenuhi dunia. Allah pun murka dan menyerakkan orang-orang Babel. Dengan cara ini mereka belajar untuk mendengar dan berjumpa dengan Allah.

Pesan lain yang disampaikan yaitu agar jangan sombong saat sukses atau tercukupi. Karena dibalik semua kesuksesan itu ada Tuhan yang ikut berperan serta. Maka orang Katolik diingatkan untuk bersikap rendah hati dan mau menolong sesama dengan ikhlas.

Ibu Candri ikut menjelaskan, Tuhan sebenarnya telah memberikan petunjuk melalui Kitab Suci bagaimana sebaiknya kita berpikir, bersikap, bertindak dan berkomunikasi dengan sesama. Kitab Suci juga mengingatkan kita untuk kembali kepada Allah. Maka, membaca Kitab Suci dan memahami Sepuluh Perintah Allah dapat merubah cara berpikir, cara bersikap, cara bertindak dan cara berkomunikasi kita menjadi sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, remaja Katolik diharapkan rajin membaca kitab suci.

Dengan adanya perubahan cara berpikir, bersikap, bertindak dan berkomunikasi, maka akan muncul kerukunan, cara berbicara yang lemah lembut dan hati-hati, jauh dari sikap arogan. Sebaliknya, bersikap damai, rendah hati, tidak berfokus pada gadget, hidup sederhana, mau membantu orang tua, menjalin komunikasi terbuka dengan orang tua. Boleh main gadget asal ingat untuk menyelesaikan tugas, membaca Kitab Suci, dan menjalin persahabatan dan komunikasi yang baik.

Ibu Candri dan ibu Ima juga menceritakan pengalaman saat di-bully. Mereka menanggapi hal ini dengan berlapang dada, tidak perlu marah, sebaliknya, tetap bersikap rendah hati, penyemangat untuk menjadi lebih baik dan pengingat untuk selalu berdoa dalam kesulitan.

Pendalaman Kitab Suci, diskusi, dan sharing ini ditutup dengan lagu dan doa penutup, dilanjutkan makan siang bersama bekal yang dibawa dari rumah. Selanjutnya, para remaja Laurentius diajak oleh om Deddy untuk berkeliling area San Diego Hills dan menikmati keindahan alamnya. Setelah puas berkeliling, mereka bermain games kembali di lapangan bola, dipandu oleh pembina BIR. Mereka pulang ke Cikarang sekitar pukul 15.00. Sampai jumpa kembali di pertemuan berikutnya.

- Inawati -