kanonisasimotherteresa1

Pada 15 Maret 2016 Tahta Suci resmi mengumumkan akan menggelar upacara kanonisasi untuk Ibu Teresa dari Kalkuta(India). Sejak saat itu, kita pasti sering mendengar kata kanonisasi dan bahkan dalam setiap perayaan Misa umat PITC selalu mendoakan agar Ibu Teresa diangkat menjadi salah satu Orang Kudus (dikanonisasi).

Apa itu Kanonisasi? Dan bagaimana proses seseorang dikanonisasi menjadi seorang Santo atau Santa? Dalam edisi ini, Warta Teresa secara khusus akan membahas tentang Kanonisasi dan tahapannya.

Gereja belum mempunyai prosedur resmi sebelum tahun 1234. Penetapan prosedur untuk menyelidiki hidup calon santo-santa baru ditetapkan oleh Paus Gregorius IX pada tahun 1234, yang kemudian pada tahun 1588, Paus Sixtus V mempercayakan kepada Kongregasi Ritus (yang kelak diberi nama Kongregasi untuk masalah Santo/Santa) untuk mengawasi keseluruhan proses. Selanjutnya, berbagai Paus merevisi ketentuan dan prosedur kanonisasi, dimulai dari Paus Urbanus VIII tahun 1634.

Saat ini, prosedurnya sebagai berikut. Apabila seorang yang telah meninggal dunia dan “dianggap martir” atau “dianggap kudus” maka Uskup Diosesan yang memprakarsai proses penyelidikan. Dimana salah satu unsur penyelidikan adalah apakah suatu permohonan khusus atau mukjizat telah terjadi melalui perantaraan calon santo-santa yang bersangkutan. Gereja juga akan menyelidiki tulisan-tulisan calon santo-santa guna melihat apakah mereka setia pada “ajaran yang murni,” pada intinya tidak didapati adanya suatu kesesatan atau suatu yang bertentangan dengan iman Katolik. Segala informasi ini dikumpulkan dalam suatu transumptum, yaitu salinan yang sebenarnya, yang disahkan dan dimeterai. Transumptum kemudian diserahkan kepada Kongregasi untuk masalah Santo/Santa.

Begitu transumptum telah diterima oleh Kongregasi, penyelidikan lebih lanjut dilaksanakan. Jika calon santo-santa adalah seorang martir, Kongregasi menentukan apakah ia wafat karena iman dan sungguh mempersembahkan hidupnya sebagai kurban cinta kepada Kristus dan Gereja. Dalam perkara-perkara lainnya, Kongregasi memeriksa apakah calon digerakkan oleh belas kasih yang istimewa kepada sesama dan mengamalkan keutamaankeutamaan dalam tindakan yang menunjukkan keteladanan dan kegagahan.

Sepanjang proses penyelidikan ini, “promotor iman”, mengajukan keberatan-keberatan dan ketidakpercayaan yang harus berhasil disanggah oleh Kongregasi. Begitu seorang calon dimaklumkan hidup dengan mengamalkan keutamaan-keutamaan yang gagah berani, maka calon dimaklumkan sebagai Venerabilis (yang berbahagia).

Proses selanjutnya adalah BEATIFIKASI. Seorang martir dapat dibeatifikasi dan dimaklumkan sebagai “Beato-Beata” dengan keutamaan kemartiran itu sendiri. Di luar kemartiran, calon harus diperlengkapi dengan suatu mukjizat yang terjadi dengan perantaraannya. Dalam memastikan kebenaran mukjizat, Gereja melihat apakah Tuhan sungguh melakukan mukjizat lewat perantaraan calon Beato/Beata. Begitu dibeatifikasi, calon santa-santo boleh dihormati, tetapi terbatas pada suatu kota, keuskupan, wilayah atau kelompok religius tertentu. Selanjutnya, Paus akan mengesahkan suatu doa khusus, atau Misa atau Ofisi Ilahi yang pantas demi menghormati Beato-Beata yang bersangkutan.

Dalam sejarah Gereja Katolik, Paus Yohanes Paulus II adalah orang yang menerima gelar Beato tersingkat dalam zaman modern ini yakni 6 tahun dan 1 bulan setelah kematiannya. Selain beliau, Ibu Teresa juga menerima gelar beata tersingkat zaman modern ini yakni 6 tahun 1 bulan dan 2 minggu setelah kematiannya.

Setelah beatifikasi, suatu mukjizat lain masih diperlukan untuk kanonisasi dan memaklumkan secara resmi seseorang sebagai seorang santo-santa. Proses resmi untuk memaklumkan seseorang sebagai seorang santo-santa disebut KANONISASI.

 

( disadur dari berbagai sumber )