Hari komunikasi Sosial Sedunia

Pada minggu ini, Gereja Universal merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia (HKSS). Pada HKSS ini, Paus Fransiskus mengeluarkan pesan yang berjudul “Jangan takut, Aku besertamu: Komunikasikan Harapan dan Iman”. Dalam awal pesan tersebut, Bapa Suci mengutarakan pandangannya tentang komunikasi zaman sekarang. Menurut beliau, berkat kemajuan teknologi, akses yang mudah dan terbuka pada media komunikasi memungkinkan banyak orang berbagi berita secara langsung dan menyebarkannya secara luas. Namun, beliau menyayangkan bahwa tidak hanya berita baik dan benar yang tersebar, namun juga berita buruk atau salah (hoax).

Menyikapi situasi itu, beliau mengutip pandangan St. Yohanes Kassianus dalam Surat kepada Leontius: “Pikiran kita akan selalu ‘menggiling’, tetapi kita bebas menentukan apa yang mau digiling.” Lewat kutipan itu, beliau ingin menyampaikan pesan kepada semua orang yang – entah dalam pekerjaan profesional atau hubungan-hubungan pribadinya – setiap hari “menggiling” banyak informasi dengan tujuan menyediakan asupan yang berguna dan baik bagi orang-orang dengan siapa mereka berkomunikasi. Beliau mengajak setiap orang untuk terlibat dalam membangun komunikasi yang konstruktif (membangun), menampik prasangka terhadap orang lain, dan menggalakkan budaya perjumpaan, seraya membantu kita semua untuk memandang dunia di sekitar kita secara real dan meyakininya. Beliau mengajak kita semua untuk memutuskan lingkaran setan kecemasan dan spiral ketakutan yang timbul karena kita secara konstan telah berfokus pada “berita buruk” (peperangan, terorisme, skandal, dan semua jenis kegagalan manusiawi). Biarlah kita tidak menjadi penyebar informasi sesat yang mengabaikan tragedi penderitaan manusia; dan optimisme naif yang membutakan mata terhadap skandal kejahatan. Dengan demikian, beliau mengajak semua orang untuk menjadi agen “kabar baik” bagi dunia ini.

Kabar Baik

Bagi Bapa Suci, lensa yang tepat dalam membaca realitas dunia ini adalah kabar baik, yang berpangkal pada Sang Kabar Baik: “Injil Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1). Beliau berpendapat bahwa Santo Markus menekankan pada permulaan Injilnya bahwa kabar baik itu adalah Yesus sendiri. Yesus sendiri, disebut kabar baik bukan karena tidak ada kaitannya dengan penderitaan, tetapi justru penderitaan menjadi bagian dari sebuah “gambar” yang besar. Penderitaan ini dimaknai sebagai bagian penting dari bukti cinta Yesus kepada Bapa dan semua orang. Dalam Kristus, Allah menunjukkan solidaritas-Nya terhadap setiap situasi manusia. Ia telah memberitahu kita bahwa kita tidak sendiri; bahwa kita punya Bapa yang selalu memperhatikan anak-anak-Nya. “Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau” (Yes 43:5). Bahkan di dalam kegelapan dan kematian, dalam Kristus menjadi tempat perjumpaan Terang dan Hidup.

Dari sinilah lahir harapan, yang bisa dijangkau semua orang ketika mengalami masa pahit dalam hidup. Melalui lensa ini, setiap tragedi yang terjadi dapat menjadi latar untuk sebuah kabar baik, persis seperti cinta yang dapat menyentuh kita, menimbulkan simpati, menguatkan, dan siap untuk membantu.

Keyakinan akan Benih Kerajaan

Guna memperkenalkan pola pikir Injil ini kepada para murid-Nya dan orang banyak serta memberi mereka “lensa” yang tepat untuk melihat dan merangkul kasih yang mati namun bangkit itu, Bapa Suci melihat bahwa Yesus menggunakan perumpamaan. Ia seringkali membandingkan Kerajaan Allah dengan benih yang melepaskan potensi kehidupannya justru ketika benih itu jatuh ke tanah dan mati (bdk. Mrk 4:1-34). Bagi beliau, begitulah cara bagaimana harapan akan Kerajaan Allah menjadi matang dan mendalam: Kerajaan Allah itu adalah “seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi” (Mrk 4:26-27).

Kerajaan Allah sudah hadir di tengah-tengah kita, seperti benih yang mudah diabaikan, namun diam-diam berakar. Orang-orang yang dianugerahi penglihatan yang tajam oleh Roh Kudus dapat menyaksikan benih itu mekar. Mereka tidak akan pernah membiarkan sukacita Kerajaan diambil dari diri mereka oleh ilalang yang bermunculan di mana-mana.

Cakrawala Roh

Paus Fransiskus berpendapat bahwa harapan kita – yang didasarkan pada kabar baik, Yesus sendiri – membuat kita menengadah untuk mengkontemplasikan Tuhan pada Hari Raya Kenaikan-Nya. Meski Tuhan terkesan lebih jauh saat ini, beliau melihat bahwa justru cakrawala harapan kian meluas. Dalam Kristus yang menyelamatkan kita, kini setiap orang dapat secara bebas “oleh darah Yesus … masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri” (Ibr 10:19-20). Oleh “kuasa Roh Kudus”, kita dapat menjadi saksi dan komunikator kemanusiaan yang baru dan tertebus, “sampai ke ujung bumi” (Kis 1:7-8). Menurut Bapa Suci, keyakinan akan benih Kerajaan Allah dan misteri Paskah mesti juga membantu cara kita berkomunikasi. Keyakinan ini memampukan kita untuk peka terhadap kabar baik yang ada dan menyuguhkannya ke hadapan semua orang dalam pekerjaan dan cara komunikasi.

Mereka yang percaya menyerahkan diri kepada bimbingan Roh kudus akan menyadari, bahwa Allah itu hadir; turut bekerja dalam setiap langkah hidup kita, menjadikan hidup kita sebagai bukti nyata karya keselamatan. Harapan adalah benang yang menenun sejarah suci, dan penenunnya tak lain adalah Roh Kudus, Sang Penghibur. Harapan adalah kebajikan yang paling “rendah hati”, yang ia tersembunyi selama perjalanan hidup, tetapi mengembangkan seluruh iman dan hidup kita. Harapan dipelihara dengan membaca Injil yang selalu diperbarui: yang “dicetak ulang” dalam banyak edisi hidup kudus – ikon-ikon cinta Tuhan dalam dunia.

Kita patut bersyukur ada sosok-sosok yang mendapat inspirasi dari Kabar Baik di tengah peristiwa dramatis aktual, tetapi kemudian bersinar seperti mercusuar di tengah kegelapan dunia; memancarkan cahaya sepanjang jalan dan membuka jalan baru terhadap keyakinan dan harapan.

- RD. Vinsensius Rosihan Arifin -

Warta TeresaMelayani Sesama Dengan Cinta Kasih & Semangat Persaudaraan Sejati