Mengenal Paroki Bekasi Utara Gereja St Klara Lahir dari “Rahim” Santo Arnoldus

Mengenal Paroki Bekasi Utara Gereja St Klara Lahir dari “Rahim” Santo Arnoldus

Paroki Bekasi Utara awalnya adalah Wilayah 6 dari Paroki Arnoldus (Gereja St Arnoldus Janssen). Pada dasarnya latar belakangnya adalah karena masih sulitnya kondisi jalan saat itu. Lama sebelum menjadi stasi, sudah ada Sekolah Minggu di Wilayah ini. Dengan bertambahnya anggota Sekolah Minggu, beberapa tokoh umat patungan menyewa ruko di Kompleks Wisma Asri. Ruko ini masih dipakai untuk merayakan Ekaristi dan melakukan berbagai kegiatan lainnya.

 

 

Seorang warga keturunan Tionghoa, Mintarya, meminjamkan rukonya selama beberapa tahun untuk kegiatan ini. Di ruko inilah misa Stasi mulai diadakan. Dalam misa dan berbagai kegiatan umat saat itu, nama yang tidak bisa dilupakan adalah Bapak Mathias (alm) dan Bapak Fransiskus Setiady. Mereka dengan semangat mendatangi dan mengajak umat Katolik untuk hadir dalam misa. Mereka menjelajahi wilayah yang cukup luas dengan sepeda untuk menemui umat, menyampaikan undangan, juga untuk sekadar bertemu dan ngobrol. Untuk kunjungan semacam ini, Setiady mengistilahkan “pendekatan hati dan iman”.

 

FX Banu (75 thn) menuturkan, pada tahun 1970-an di Seroja sudah ada Kapella, sehingga kalau bicara soal Katolik di Bekasi Utara, awalnya dari Seroja. Para tentara yang Katolik yang
tinggal di Seroja menghendaki memiliki Kapella. Semula hanya ada empat keluarga Katolik di Seroja, termasuk Pak Banu. Saat itu Pak Banu, berinisiatif mencari umat. Suatu hari, dia melihat di rumah Kapten Suhardi Alib, pengawal Presiden, tergantung Salib. Dia tidak sungkan untuk mengunjungi.

Dari pertemuan dengan sang Kapten, tercetus keinginan membentuk lingkungan Seroja menjadi wilayah Seroja dan sekitarnya. Pak Banu dan Kapten Suhardi Alib termasuk pendiri wilayah ini. Empat “umat perdana” tersebut adalah FX Banu Tjahyadi (75 thn), Ignasius Budiyono, Suhardi Alip, Arief Purwono. Mereka kemudian mengajukan permohonan ke Yayasan Dharmais untuk meminta fasilitas ibadah.

 

Seroja menjadi tonggak awal Gereja Katolik di Bekasi Utara karena di sana sudah ada tabernakel, kapelnya resmi dan sudah diberkati. Paroki Bekasi Utara diresmikan pada Oktober 1996 pada hari Kristus Raja. Saat itu dilayani Pastor Albert Pandiangan OFMCap. Saat ini jumlah umat mencapai 9.422 jiwa, dengan 11 Wilayah dan 58 Lingkungan, sebagian besar adalah keluarga muda dan usia produktif.

 

Tim Sejarah Paroki
Data diambil dari : Perjalanan Gereja Katolik (di) Jakarta, Gramedia, 2017

Dipost Oleh Simon Aldwin

~ Simon ~

Post Terkait

Tinggalkan Komentar