Mengabarkan Injil

Mengabarkan Injil

Ibu, bapak, saudari, dan saudara terkasih dalam Kristus, pada minggu ini, kita memasuki Hari Minggu Biasa V/B. Dalam bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), Markus mengisahkan bahwa Tuhan Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon dan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit, serta mengusir banyak setan. Keesokan harinya pun Tuhan Yesus pergi ke seluruh Galilea untuk memberitakan Injil dalam rumahrumah ibadat dan mengusir setan-setan.

Unsur penting dalam karya Tuhan Yesus adalah mukjizat-mukjizat-Nya, yakni menyembuhkan orang dari penyakit dan membebaskan orang dari kuasa-kuasa jahat. Hal itu menunjukkan bagaimana kuasa Allah mengalahkan kuasa-kuasa jahat yang menimpa manusia dengan sengsara dan derita. Oleh karena itu, pada dasarnya, mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus menuntut iman dan bermaksud mengarahkan orang kepada Allah. Tuhan Yesus sebagai utusan Allah melaksanakan kehendak Bapa-Nya agar dengan demikian semakin banyak orang beriman kepada Tuhan Yesus.

Namun demikian, perhatian terhadap unsur mukjizat dalam karya Tuhan Yesus bukannya tanpa resiko. Resikonya adalah bahwa orang tidak lagi melihat tempat dan peranan mukjizat dalam karya-Nya, yaitu tanda yang berbicara tentang datangnya Kerajaan Allah demi keselamatan manusia. Tuhan Yesus menghadirkan Kerajaan Allah dengan menyembuhkan berbagai penyakit dan mengusir setan-setan. Dengan kata lain, ada kemungkinan bahwa orang hanya memandang Tuhan Yesus sebagai penyembuh ajaib, pengusir roh-roh jahat, guru yang penuh wibawa, dan sebagainya. Itulah yang diharapkan oleh banyak orang dari seorang Mesias oleh orang-orang Yahudi pada zaman itu.

Dari kisah Injil minggu ini, kita pun disadarkan akan siapa Tuhan Yesus dan apa misi-Nya. Lalu, makna apa yang bisa kita ambil bagi hidup beriman kita pada saat ini? Ada kemungkinan orang mencari Yesus sebagai pembuat mukjizat hanya demi keberuntungan dan kelegaan dirinya saja. Dalam hidup kita sehari-hari pun, terkadang kita mengalami kasih dan mukjizat Tuhan, namun hanya berhenti pada mengalami saja dan tidak ada kelanjutannya. Hal itu tidaklah tepat karena keselamatan yang diterima melalui Yesus hendaknya ditanggapi jawaban pelayanan: pelayanan kepada Tuhan dan sesama, seperti yang dilakukan oleh ibu mertua Petrus setelah disembuhkan. Maka, memberitakan Injil berarti mewartakan kabar gembira yang telah kita terima karena sabda dan karya-Nya dalam hidup kita dengan melayani Tuhan dan sesama. Itulah bentuk rasa syukur dan perutusan yang kita jalani setelah
merasakan berkat-Nya. Selamat hari Minggu. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

 

Rm. Vinsensius Rosihan Arifin, Pr

 

Dipost Oleh Simon Aldwin

~ Simon ~

Post Terkait

Tinggalkan Komentar