KEBIJAKAN PASTORAL KAJ TENTANG PERAYAAN IMLEK

KEBIJAKAN PASTORAL KAJ TENTANG PERAYAAN IMLEK

KEBIJAKAN PASTORAL
KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA
TENTANG PERAYAAN TAHUN BARU IMLEK
PADA HARI JUMAT PANTANG
MASA PRAPASKAH (16 FEBRUARI 2018)

 

Kebijakan Pastoral KAJ ini dibuat untuk menjawab, bagaimana sebagai orang Katolik merayakan tahun baru Imlek yang jatuh pada hari Jumat pantang dalam masa Prapaskah tahun 2018.

Gereja Katolik menghargai makna dari peristiwa budaya Imlek yang masih dihayati oleh sebagian orang Tionghoa yang beragama Katolik. Ada beberapa nilai yang dapat kita maknai kembali sebagai orang beriman Katolik dari budaya merayakan Imlek :

• Perayaan Imlek adalah perayaan kehidupan yang pasti menghargai dan menghormati Tuhan Sang Pencipta (taqwa), manusia dan alam ciptaan.

• Perayaan Imlek merupakan perayaan pendamaian (rekonsiliasi dan harmoni) antara manusia dengan Allah, manusia dengan sesama dan manusia dengan alam ciptaan


• Perayaan Imlek merupakan sarana perwujudan adat istiadat yang menjadikan manusia sebagai Jen (manusia bijak)


• Perayaan Imlek adalah perayaan Syukur bersama keluarga dan komunitas serta masyarakat


• Perayaan Imlek adalah perayaan persaudaraan yang diwujudkan dengan berbela rasa dan berbagi kepada sesama manusia yang miskin dan menderita.

 

Keuskupan Agung Jakarta mengharapkan umat Allah yang masih merayakan tahun baru Imlek mempertimbangkan dialog dengan budaya Tionghoa tersebut. Semoga kita semakin dewasa dalam mempertimbangkan dan memilah mana yang bermakna, baik dari ajaran Gereja Katolik tentang pantang dan puasa di masa Prapaskah, maupun dari budaya dan tradisi Tionghoa. Oleh karena itu Keuskupan Agung Jakarta menawarkan kebijakan sebagai berikut :

1) Umat Allah dapat merayakan Misa Syukur Tahun Baru Imlek pada hari Jumat tgl 16 Februari 2018 dengan penuh sukacita dan berbela rasa serta berbagi rejeki kepada orang yang miskin, menderita dan tersisih serta berkebutuhan khusus. KAJ mengharapkan umat Allah agar tetap pantang pada hari jumat tersebut. Bisa juga umat Allah mencari hari lain untuk menggantikan ibadah jalan salib dan hari jumat pantangnya, baik secara pribadi maupun kelompok/komunitas/ paroki.


2) Sukacita perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari, maka perayaan Misa Syukur Tahun Baru Imlek dapat dilaksanakan pada saat perayaan Imlek atau hari-hari biasa sesudah perayaan Imlek, namun tidak menggantikan misa minggu Prapaska I tahun 2018.


3) Apabila umat Allah belum dapat merayakan Misa Syukur Tahun Baru Imlek atau tidak adanya Misa Syukur tersebut di paroki setempat, maka dapat diperkenankan mempersembahkan intensi misa (doa) pada hari minggu Prapaska I atau Prapaska II tahun 2018.

Semoga umat Allah Keuskupan Agung Jakarta semakin tangguh dalam iman, terlibat dalam persaudaraan inklusif dan berbela rasa terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Amin.


Salam Persatuan dalam Kebhinnekaan

Dipost Oleh Simon Aldwin

~ Simon ~

Post Terkait

Tinggalkan Komentar