Logo
images

Hari Rabu Abu Pantang Dan Puasa

Hari Rabu Abu


Hari Rabu Abu adalah hari pertama masa Prapaskah. Ini terjadi pada hari Rabu, 40 hari sebelum Paskah, tanpa menghitung hari-hari Minggu sebelum hari Jumat Agung. Pada hari Rabu Abu kita datang ke gereja mengikuti perayaan ibadat dan di dahi kita diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini. Biasanya pemberian tanda tersebut disertai dengan ucapan: "Bertobatlah dan percayalah pada Injil."

Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, sesal, dan tobat. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuno di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (Ester 4:1,3). Dengan penggunaan simbol abu, kita juga diingatkan bahwa kita diciptakan dari debu tanah (Lih. Kej 2:7) dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu.

Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang sama. Dalam bukunya "De Poenitentia", Tertulianus (sekitar 160-220) menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah
"hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu." Eusebius (260-340), sejarahwan Gereja perdana menceritakan dalam bukunya "Sejarah Gereja" bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan. Juga bagi umat yang diwajibkan untuk menyatakan tobat di hadapan umum, imam akan mengenakan abu ke kepala mereka setelah pengakuan.

Hari Rabu Abu menjadi hari pertama pembukaan masa Prapaskah, masa di mana kita diajak untuk menghayati makna pertobatan, introspeksi diri, pendekatan diri kepada Tuhan, dan berpuasa. Penggunaan abu sebagai lambang dari kefanaan manusia (Kej 3:19; 18:27), penyesalan dan pertobatan (Yos 7:6; 2 Sam 13:19; Est 4:3; Ayb 2:12; Yes 58:5-7; Yeh 27:30; Dan 9:3; Yun 3:6; bnd. Yl 2:12-13; Mrk 1:15).

Sekarang semua umat kristiani menerima abu pada Hari Rabu Abu. Dalam perayaan Rabu Abu, digunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada tahun sebelumnya. Imam memberkati abu dan menorehkan pada dahi umat dengan membuat tanda salib. Patutlah diingat, makna abu yang telah diterima: menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa, mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan manusia.

Pantang dan Puasa
Masa Prapaskah adalah masa pertumbuhan jiwa kita. Kadang-kadang jiwa kita mengalami masa-masa kering di mana Tuhan terasa amat jauh. Masa Prapaskah akan mengubah jiwa kita
yang kering itu. Masa Prapaskah juga membantu kita untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk, seperti mementingkan diri sendiri dan suka marah.

Ada dua hal yang perlu diperjuangkan dalam Masa Prapaskah, yaitu: "NIAT" dan "USAHA". Misalnya saja kita berniat untuk lebih mengasihi sesama, kita juga berniat untuk tidak lagi menyakiti hati sesama. Salah satu alasan mengapa kita gagal memenuhi niat kita itu adalah karena kita kurang berusaha. Kita berusaha untuk menguasai tubuh dan pikiran kita dengan berlatih menguasai diri dalam hal-hal kecil. Oleh karena itulah, kita melakukan pantang dan puasa selama Masa Prapaskah. Kita berpantang permen atau rokok atau pun pantang menonton program TV yang paling kita sukai. Dengan berpantang kita belajar mengendalikan diri. Jika kita telah mampu menguasai diri dalam hal-hal kecil, kita dapat meningkatkannya pada hal-hal yang lebih serius.

Pada intinya, dengan berpantang dan berpuasa, kita mengikuti teladan Tuhan Yesus yang berpuasa 40 hari 40 malam di padang gurun. Dalam berpantang dan berpuasa, kita diundang untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan Kristus, yakni menyatukan pengorbanan kesenangan diri kita dengan pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Dengan berpantang dan
berpuasa, kita diajak untuk berdoa merenungkan sengsara dan wafat Tuhan kita dan beramal kasih seperti Yesus yang mengorbankan diri-Nya untuk keselamatan semua orang.

Berlatih menguasai diri baru sebagian dari usaha. Untuk itu mulailah Hari Rabu Abu dengan menerima abu yang telah diberkati, lalu kemudian memulai hidup baru bagi jiwa kita! Selamat berpantang dan berpuasa, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Kiranya Tuhan
Yesus Kristus menuntun langkah kita sampai pada pemaknaan yang semakin dalam. Tuhan memberkati niat dan usaha kita. Amin.

 

Br Paulus Sumarno FIC



Dipost Oleh Simon

~ Simon ~

Tinggalkan Komentar